Relasi

SAATNYA MERELASIKAN BERAGAM  DAYA HIDUP

Krisis dalam bahasa Cina mengandung dua unsur “ Danger “ dan “ Opportunity “ , bisa disebut sebagai sesuatu yang berbahaya namun juga kesempatan bangkit baru.

Sejarah Seni dan para seniman senantiasa dipenuhi kisah  krisis dan cara – cara pemecahan. Melahirkan konsep, metode , kolaborasi hingga cara berjejaring dalam mengolah manajemen teknologi. Yakni , kerja  dalam  lewat merelasikan ragam modal daya hidup, yakni modal  kreativitas, modal kultural, modal enviroment, modal teknologi hingga model jejaring kolektif.

Sejarah seni mencatat  bahwa bertumbuhnya konsep berkesenian  tidak dapat terpisah dengan pertanian dan latar belakang agraris. Konsep berkesenian dengan teknologi baru ataupun metode manajemen pameran pula  marketing kian  terus memperbarui diri.

Pandemi adalah krisis terbesar kemanusiaan di setiap negara dan individu , termasuk seniman abad ini.

Oleh karena itu upaya pemecahan masalah dengan merelasikan modal – modal daya hidup menjadi upaya sekecil apapun yang harus dijalani dan didukung.

Resoilnation adalah upaya merelasikan modal kreativitas para perupa dengan dunia virtual,  serta modal manajemen sosial ( kebersamaan ), modal manajemen ekonomi kerakyatan dan modal pertanian. Itu semua juga tak lepas dari modal manajemen teknologi serta modal jejaring  yang saling mendukung dan berkaitan. Sebuah upaya yang tidak mudah, namun upaya melangkah adalah cara terbaik di tengah krisis.

Membaca sosok di belakang kerja Resoilnation , terbaca kebergaman latar disiplin, baik beragam seni hingga penggiat ekonomi kerakyatan dan institusi dunia teknologi 4.0 / 5.0 maupun institusi penggiat swadaya warga.

Di sisi lain, Melihat karya – karya rupa yang berpartisipasi, maka justru terbaca keragaman karya  , sekaligus Resoilnation menjadi ruang menangkap kekuatan karya rupa tak terduga  yang tidak hadir dalam pameran – pameran umum.

Dalam krisis kemanusiaan terbesar, langkah kecil dengan merelasikan seluruh modal daya hidup adalah menjadi daya hidup itu sendiri. Pada gilirannya, ini adalah upaya menemukan tatanan dan cara hidup new normal ke depan, khususnya di kota jogja sebagai Indonesia kecil budaya dan pendidikan.

Garin Nugroho

Kurator Resoilnation


Meet The Team

1. Risang Yuwono – Direktur Program


Risang Yuwono lulus dari Institut Seni Jakarta pada tahun 2009. Ia memilih fakultas film dan televisi untuk menikmati gairahnya dalam kreativitas serta pengembaraan kausalitas rasa melalui fotografi.

Selama lebih dari 12 tahun bergerak di berbagai entitas seperti organisasi seni, korporasi dan berbagai kementerian, Seperti Kementerian pemuda dan olah raga (kemenpora) sebagai staf khusus, Kementerian Perdagangan Indonesia (Kemendag) sebagai konsultan kreatif untuk Masyarakat Ekonomi Asean, dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menjadi bagian dari program promosi internasional melalui film realitas virtual (360 video) dalam kampanye Pariwisata Indonesia di luar negri.

Sejak 2013 hingga saat ini masih senantiasa bergerak dalam proyek fotografi bersama kelompok yang ia dan keluarganya dirikan ( sanggar ketoprak tobong- www.projecttobong.com). Grup teater nomaden terakhir di Indonesia ini memperoleh dukungan sepenuhnya oleh British Council Indonesia dan Dewan Seni Inggris ( 2013 – 2015) untuk meningkatkan kesadaran akan makna kebudayaan serta menandai kembali definisi tradisi melalui karya seni “ tableau vivant”, sebuah karya fotografi yang kini menjadi arsip Horniman museum South of London dan Cult Gallery Kula Lumpur.

Kini Risang tinggal di Yogyakarta – Indonesia, menekuni proses sebagai seniman sepenuh waktu untuk memimpikan kemustahilan. Dari tangannya, Risang terus berkarya dengan menunggangi badai dan meniupkan peluit pergerakan di berbagai sektor multidipliner. Inilah kemerdekaannya, merumpunkan perbedaan dalam budaya dan meningkatkan kapasitas dalam organisasi kemanusiaan seperti Rotary International Club, Koperasi Seniman dan Budayawan (KOSETA) dan berbagai organisasi lainnya yang memerdekakan pikirannya.

2. Bahrul Fauzi Rosyidi – Sekretaris


Lahir di Banyuwangi. Saat ini mengemban amanah sebagai akademisi muda di Departemen Ekonomika dan Bisnis, SV UGM bidang Manajemen Bisnis, spesifikasi bidang Keuangan. Aktif di beberapa organisasi di Jogja, seperti PPM FEB (Pusat Pengembangan Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis) UGM (2008), Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP-UGM), Pusat Studi Ekomomi Kerakyatan (PSEK-UGM), Fokus (Forum Kusumanegara), ANSOR BANSER NU, Yayasan Rumah Kebhinekaan (INRUKA), lalu ikut mendirikan dan memperjuangkan Koperasi Seniman Budayawan Yogyakarta, ia juga merupakan Pimpinan Pusat Studi Keistimewaan Yogyakarta dibawah Omah Kaistimewan Jogja.

Beliau lahir di lingkungan Pesantren yang kental dengan kultur NU. Sangat menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi toleransi. Saat ini tinggal di Yogyakarta bersama adiknya, Achmad Abdul Haq Rosyidi.

3. Tri Suharyanto – Manajer Eksibisi


Lahir di Yogyakarta pada 15 November 1973, Ia memulai karir seni pada awal 1990-an dengan berkecimpung bersama keluarga besar seniman malioboro dan yogyakarta kala itu. Ketertarikannya pada seni melangkahkan kakinya untuk menempuh studi lanjutan di Sekolah menengah Seni Rupa pada tahun 1993 hingga selesai. Tri suharyanto begitu terinpirasi pada lingkungan dan manusia, dan mulai menekuni proses seninya sebagai pematung dengan melahirkan berbagai karya patung dan desain diantaranya “1st champion” dalam IFAT Design Product di Tanzania – Africa, “Solving Technical Drafter Team” dengan rekor MURI sebagai “Biggest and Most Categories of Kites Emporium”, Pluit – Jakarta pada 2010.Tri Suharyanto juga memproduksi karya seni kritis dan menukik dengan menginisiasi beberapa pameran seperti ”Festival Air seni“ (2011) dan “Panen Terakhir” (2012) serta berbagai pameran yang ia selenggarakan bersama berbagai komunitas seni di yogyakarta maupun nasional dan internasional. Tri Suharyanto telah mengukuhkan karyanya pada sebuah buku yang berjudul “mythologi”. Sebuah buku kumpulan proses pengkaryaan yang ia luncurkan di Taman Budaya Yogyakarta pada 2017. Kini Tri tinggal dan menetap di Yogyakarta sebagai pematung sepenuh waktu dan menjaga bara kesenian bersama Resoilnation.

4. Sigit Sugito – Pendiri KOSETA


Lahir pada 25 Juni 1959. Sigit Sugito telah  mengenal dunia sastra sejak belia, Ia menekuni dunia sastra secara otodidak sejak awal 1970-an. Sejak saat itu Sigit Sugito getol mengikuti geliat sastra di Yogyakarta seperti menyaksikan Rendra dalam pembacaan puisi-puisinya. Sigit Sugito aktif dalam prgerakan seni budaya di Yogyakarta sejak usianya menginjak paruh baya dan meluai mendirikan berbagai perkumpulan yang melahirkan  kantong-kantong seni budaya seperti Sanggar Studi Teater dan Sastra Sila (1980), Paguyuban Teater Bantul (1986), bahkan juga aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan  sejak 1992 dengan  mendirikan Forum Kesenian Indonesia bersama Alm. Angger Jati Widjaja, Amron Trisnardi dan berbagai kalangan seniman lainnya.

Sigit sugito terus bergerak dalam dunia sastra dengan mendirikan Paguyuban Sastra Mataram di awal tahun 2000 dengan tujuan untuk memberikan ruang apresiasi bagi sastra jawa maupun nasional untuk mengembangkan potensi sastra dan karir kesusastraan di Indonesia, tak puas puas dengan itu semua, Ia mendirikan organisasi kemasyarakatan seperti Kooperasi Seniman dan Budayawan (KOSETA) yang ia ristis bersama Alm. Sapto Raharjo, Museum Keistimewaan Yogyakarta, dan Forum Kusumanegara bersama para budayawan dan aktifis di Yogyakarta.

Kini  Sigit Sugito tinggal di Yogyakarta dan aktif berkarya serta menulis sastra demi pelembagaan rasa pada dirinya. Sigit sugito sedang mempersiapkan gagasan untuk melahirkan hari Purbakala Nasional  atau hari jadi kebudayaan bangsa yang ia yakini merupakan sebuah amanah dan kerinduannya untuk membakukan personifikasi kebudayaan Yogyakarta sebagai pilar kebudayaan nasional.

5. Garin Nugroho – Kurator


Lebih dari 65 penghargaan film diraihnya dari berbagai festival nasional dan international. Karyanya meluas dari film, teater, dance hingga instalasi seni. Garin mendapatkan penghargaan peran budaya tertinggi dari  berbagai negara : pemerintah Perancis  (The Ordredes Arts des Letters ), italia (Stella D’Italia Cavaliere) hingga Presiden Indonesia dan honorary award Singapura International Film  Festival , Life Achievement Award dari Bangkok International Festival, walikota kota Roma hingga Vaseoul – Perancis. Tercatat sebagai pelopor generasi film pasca 1990. Selain berkarya, ia juga menumbuhkan beragam festival seni, menulis buku, menjadi Kolomis Kompas dan Tempo serta menumbuhkan organisasi swadaya untuk demokrasi. Selain menjadi juri di berbagai film festival nasional, Garin Nugroho juga tercatat sebagai dosen pengajar,  sekaligus penguji di berbagai ruang akademis baik untuk strata pendidikan S2 maupun S3 di ISI Solo dan Yogyakarta.